Ebrita.com – Pada Rabu malam, 3 Desember 2025, publik sepak bola Indonesia kembali heboh ketika mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, tiba di Jakarta.
Kedatangan mendadak ini langsung menimbulkan spekulasi — apakah sang “Mister” akan kembali mengambil alih tampuk pelatih Timnas, atau hanya kunjungan pribadi semata?
Sontak peristiwa itu menuai reaksi keras — bukan hanya dari media Indonesia, tetapi juga dari media luar negeri, khususnya di Vietnam, yang langsung ramai memberitakan isu “reuni” Shin dengan Timnas.
Namun, apakah harapan publik itu beralasan?
Padahal, sejak awal 2025, Erick Thohir bersama PSSI telah membuat keputusan tegas: kontrak Shin Tae-yong sebagai pelatih Timnas diputus.
Goal
Dalam jumpa pers resmi, Thohir menyatakan bahwa federasi ingin “move on” dari masa lalu dan fokus mencari pelatih baru dengan visi dan strategi lain.
Lebih jauh lagi, Thohir memastikan bahwa Shin tidak akan kembali direkrut — menutup peluang “CLBK”.
Dilihat dari konteks ini, kedatangan Shin ke ibu kota tampaknya bukanlah tanda siap kembali menangani Timnas. PSSI telah menyatakan komitmennya untuk menatap masa depan dengan pelatih baru, meninggalkan era Shin dan bahkan pelatih terakhirnya.
Namun demikian, momentum ini tetap menarik — bagaimana reaksi publik, calon pelatih baru, dan tentu saja media, terhadap kemungkinan “kembalinya” figur yang pernah membawa banyak harapan. Apakah ini sekadar “kunjungan nostalgia”, atau ada agenda lain yang belum terbuka ke publik?
Bagi suporter, kedatangan ini memantik harapan lama kebangkitan. Bagi PSSI, ini jadi penegasan bahwa masa lalu telah selesai. Dan bagi media — baik dalam maupun luar negeri — ini jadi momen dramatis: ketika rumor, nostalgia, dan realitas federasi bertabrakan.(tim)





