Ebrita.com — Di balik hiruk-pikuk transaksi dan aroma rempah yang semerbak setiap pagi, Pasar Angso Duo Jambi ternyata menyimpan kisah kelam yang menegangkan. Tempat yang seharusnya menjadi ruang hidup bagi ribuan pedagang kecil, kini berubah menjadi arena penuh teror dan ketakutan.
Dalam kurun waktu kurang dari setahun, serangkaian aksi kriminal brutal mengguncang pasar tradisional terbesar di Provinsi Jambi ini — dari perampokan di siang bolong hingga penikaman yang berujung maut.
Aksi Sadis Siang Bolong: Rp 31 Juta Raib, Pedagang Ditikam
Kisah kelam itu bermula pada Jumat (13/12/2024).
Seorang karyawan toko telur bernama Sahrul Nurdiansyah (26) menjadi korban perampokan sadis di tengah keramaian. Saat hendak menyetorkan uang hasil dagangan sebesar Rp 31 juta, ia ditusuk di bagian pinggang oleh kawanan pelaku yang langsung kabur membawa uang tersebut.
Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun kejadian ini meninggalkan trauma mendalam bagi para pedagang lainnya. Pasar yang biasanya ramai pembeli mendadak tegang — rasa aman seolah lenyap.
Belum sempat tenang, Kamis (1/5/2025), Pasar Angso Duo kembali diwarnai darah.
Seorang pria bernama Anggi tewas setelah ditikam oleh pedagang pempek dalam insiden penagihan utang.
Menurut saksi, pertengkaran dimulai dari cara korban menagih utang dengan nada keras. Emosi tersulut, pisau melayang.
Pelaku yang diketahui bernama Tomo, akhirnya menyerahkan diri ke Polresta Jambi keesokan harinya, diantar oleh keluarganya.
Kasus ini menjadi bukti bahwa konflik ekonomi di pasar bisa berubah menjadi tragedi kemanusiaan hanya dalam hitungan detik.
Kengerian belum berhenti.
Pada Senin (8/9/2025) dini hari, dua pedagang sayur menjadi korban penikaman saat mencoba menggagalkan perampokan di deretan kios sayur.
Mereka mengalami luka parah akibat senjata tajam dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Meski aksi pelaku gagal total, insiden itu menambah panjang daftar kekerasan yang membayangi para pedagang yang mencari nafkah sejak subuh.
“Sampai kapan kami harus takut setiap hari? Kami hanya ingin berdagang dengan aman,” ungkap seorang pedagang cabai dengan mata berkaca-kaca.
Dan kini, kabar yang beredar di media sosial pada awal Oktober 2025 kembali mengguncang publik.
Pasar Angso Duo “berdarah” lagi — kali ini korban ditikam di bagian mata.
Peristiwa tersebut menambah daftar panjang tragedi kekerasan di pasar yang menjadi denyut ekonomi masyarakat Jambi.
Polisi masih menyelidiki motif dan pelaku, namun bagi para pedagang, rasa aman seolah tinggal cerita lama.
Dengan sedikitnya 1.200 pedagang tetap dan ratusan pedagang harian, Pasar Angso Duo adalah nadi ekonomi rakyat. Namun kini, setiap kios bukan hanya tempat mencari rezeki, melainkan benteng pertahanan hidup.
Toko-toko sudah dibobol berulang kali, pelaku kerap lolos, dan pengawasan dinilai minim.
Para pedagang menuntut perhatian serius dari pemerintah dan aparat penegak hukum.
“Pasar ini bukan cuma tempat jual beli — ini tempat kami hidup. Kalau keamanan tidak dijaga, yang mati bukan cuma orangnya, tapi juga harapan ribuan keluarga,” ujar seorang pedagang daging dengan nada getir.(tim)






