Ebrita.com – Desa Ngargogondo di lereng Gunung Menoreh, Magelang, Jawa Tengah, kini menjadi salah satu wajah baru pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Tak hanya menyuguhkan panorama alam khas pedesaan, desa binaan PT Pegadaian ini menghadirkan pengalaman wisata berbeda: kombinasi pertanian organik, UMKM hijau, hingga tata kelola ramah warga.
Berlokasi hanya 2,5 km dari Candi Borobudur, Desa Ngargogondo menawarkan fasilitas mumpuni melalui Balkondes Ngargogondo The Gade Village. Amfiteater, pendopo luas, lapangan bola dengan jogging track, hingga hamparan pohon kelengkeng membuat suasana desa begitu hidup. Saat musim panen tiba, wisatawan bahkan bisa menikmati kelengkeng segar langsung dari kebun warga.
“Kalau pas panen, warga buka warung kelengkeng di sekitar balkondes. Wisatawan bisa menikmati buahnya sepuasnya,” ujar Aryan Subekti, pengelola Balkondes Ngargogondo.
Selain kelengkeng, desa ini juga menjadi produsen cabai organik yang dibina langsung oleh Pegadaian. Program pendampingan sejak 2022 mencakup pembuatan pupuk organik, praktik menanam, hingga sertifikasi produk. Cabai Ngargogondo kini menjadi produk unggulan sekaligus simbol peralihan desa dari pertanian konvensional menuju ramah lingkungan.
Transformasi ini terbukti memberi dampak nyata. Pendapatan desa meningkat tajam, dari Rp 26 juta pada 2020 menjadi Rp 229 juta pada 2024. Jumlah event yang digelar di balkondes pun melonjak, dari 32 acara pada 2020 menjadi 70 acara pada 2024.
Lebih dari sekadar tempat wisata, Desa Ngargogondo mengedepankan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance). Transparansi laporan keuangan, pemberdayaan warga lokal, hingga pengelolaan limbah dan energi ramah lingkungan menjadi bagian dari operasional harian.
“Balkondes ini bukan hanya ruang wisata, tapi juga ruang belajar. Ada lima orang pengelola tetap, ditambah warga yang dilibatkan secara kasual ketika ada event besar. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, hingga pemuda desa ikut terlibat,” kata Aryan.
Fasilitas wisata di Balkondes Ngargogondo pun lengkap. Dua pendopo besar dengan kapasitas 300 orang, amfiteater 80 penonton, restoran, homestay dengan 17 kamar berfasilitas AC hingga sarapan, serta area event untuk festival, wedding, hingga kegiatan olahraga.
Tarif penginapan pun cukup terjangkau, mulai Rp 500 ribu untuk kamar double/twin hingga Rp 1,5 juta untuk family room.
Reggy Nouvan, ESG Spesialis PT Pegadaian, menegaskan bahwa pengembangan Ngargogondo sebagai desa wisata organik sejalan dengan misi perusahaan untuk #mengEMASkanIndonesia melalui pemberdayaan ekonomi lokal.
“Desa Ngargogondo kami siapkan sebagai destinasi satelit Borobudur. Harapannya bisa memperpanjang durasi tinggal wisatawan, memberi dampak ekonomi lebih besar ke masyarakat, sekaligus memperkuat pariwisata berkelanjutan,” ujar Reggy.
Dengan konsep ekowisata, pertanian organik, dan kearifan lokal, Desa Ngargogondo kini bukan hanya penanda lahirnya perubahan, tetapi juga destinasi inspiratif yang menawarkan pengalaman berbeda di Magelang.(tim)







