Ebrita.Com – Tiga negara barat yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Israel Inggris, Perancis dan Kanada mengambil langkah mengejutkan. Dalam pernyataan bersama, mereka mengecam keras tindakan militer Israel di Gaza yang dinilai tidak proporsional dan mengancam akan memberlakukan sanksi jika Israel tidak segera menghentikan serangan dan membuka jalur bantuan kemanusiaan secara penuh.
Langkah ini menandai pergeseran sikap signifikan dari ketiga negara tersebut, yang sebelumnya cenderung mendukung penuh narasi pertahanan diri Israel. Apa yang menyebabkan perubahan drastis ini?
Data PBB menunjukkan, lebih dari 53.000 warga Gaza tewas sejak konflik memuncak pada Oktober 2023. Blokade yang diberlakukan Israel menyebabkan hampir 500.000 orang terancam kelaparan, sementara bantuan kemanusiaan hanya diperbolehkan masuk dalam jumlah sangat terbatas.
“Ini bukan hanya krisis, ini adalah bencana yang disengaja,” ujar seorang pejabat senior di London yang tidak ingin disebutkan namanya. Inggris, Perancis, dan Kanada menilai Israel telah melanggar prinsip-prinsip hukum internasional dengan menghambat akses bantuan dan memperburuk penderitaan warga sipil.
Pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Israel akan mengambil alih kendali penuh atas Gaza dan mendorong “emigrasi sukarela” warga Palestina juga menjadi titik panas. Ketiga negara barat menegaskan penolakan mereka terhadap segala bentuk pengusiran warga sipil yang dinilai dapat mengarah pada pembersihan etnis.
“Kami tidak akan mendukung solusi sepihak yang hanya memperpanjang penderitaan rakyat Palestina,” tulis pernyataan resmi bersama yang dikeluarkan pada akhir pekan lalu.
Sebagai langkah konkret, Inggris, Perancis, dan Kanada menyatakan akan menjatuhkan sanksi diplomatik dan ekonomi jika Israel tidak segera menghentikan ofensif dan memenuhi kewajiban kemanusiaan. Meski belum dirinci, sanksi ini disebut bisa mencakup pembatasan ekspor teknologi militer dan penangguhan kerja sama strategis.
Langkah ini mendapat dukungan dari berbagai organisasi HAM internasional, namun memicu kemarahan dari pemerintah Israel. Netanyahu menyebut kritik tersebut sebagai “hadiah besar bagi Hamas” dan bersikeras bahwa operasi militer adalah bagian dari strategi pertahanan.
Pernyataan ketiga negara juga memuat dukungan eksplisit terhadap solusi dua negara, bahkan membuka kemungkinan untuk mengakui Palestina sebagai negara berdaulat dalam waktu dekat. Ini menjadi sinyal bahwa dunia barat mulai berpaling dari pendekatan sepihak dan mencari solusi damai jangka panjang.(Tim)





