Ebrita.com – Taste Atlas, platform gastronomi internasional yang sering mengulas makanan dan minuman dari berbagai belahan dunia, baru-baru ini merilis daftar minuman tradisional Indonesia dengan rating terburuk. Sebuah kejutan bagi banyak orang, karena sejumlah minuman ikonik yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari justru mendapat penilaian rendah, termasuk sekoteng, bandrek, hingga wedang jahe.
Taste Atlas dikenal sebagai ensiklopedia rasa yang menghimpun berbagai kuliner dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang sering kali muncul dalam daftar hidangan terbaik dunia. Namun, kali ini mereka merilis daftar berbeda yang cukup mengejutkan: minuman tradisional Indonesia yang menurut mereka, mendapatkan rating terburuk. Daftar ini disusun berdasarkan penilaian dari para ahli gastronomi dan kritikus makanan yang menilai dari sisi rasa, bahan, dan pengalaman menikmati minuman tersebut.
1. Kopi Joss (Rating 3,3/5)
Kopi Joss yang berasal dari Yogyakarta dikenal dengan cara penyajiannya yang cukup unik. Kopi hitam yang sudah diseduh, diberi potongan arang panas yang masih membara. Sensasi rasa pahit dari kopi berpadu dengan panasnya arang, memberikan pengalaman yang cukup ekstrem bagi penikmatnya. Bagi sebagian orang, mungkin ini adalah sensasi yang menarik, namun bagi para penilai Taste Atlas, kombinasi ini justru menghasilkan rasa yang kurang memikat, membuat kopi ini hanya mendapatkan rating 3,3 dari 5.
2. Sekoteng (Rating 3,5/5)
Sekoteng, minuman khas Jawa Tengah yang terbuat dari jahe, tampaknya juga tidak berhasil menarik hati para ahli gastronomi. Sekoteng dihidangkan panas, dengan bahan tambahan seperti sagu mutiara, kelapa, potongan roti dadu, dan kacang tanah. Meskipun sekoteng menawarkan kombinasi rasa manis dan pedas yang cukup menggoda, tekstur dari berbagai bahan yang tercampur dalam satu gelas mungkin membuat sebagian orang merasa bingung dan kurang nyaman. Dengan rating 3,5, sekoteng masuk dalam daftar minuman yang perlu lebih banyak apresiasi dalam hal keseimbangan rasa dan keunikan penyajiannya.
3. Bandrek (Rating 3,7/5)
Bandrek, minuman tradisional yang berasal dari Jawa Barat ini dikenal dengan rasa manis dan pedas yang menyegarkan. Terbuat dari bahan utama jahe, gula merah, kayu manis, cengkeh, adas bintang, hingga ketumbar, bandrek memberikan kehangatan yang menyelimuti tubuh. Namun, keunikan rasa yang cukup kuat ini mungkin tidak sesuai dengan selera sebagian besar orang luar Indonesia, membuatnya hanya mendapat rating 3,7.
4. Bajigur (Rating 3,8/5)
Seperti bandrek, bajigur juga berasal dari Jawa Barat dan terkenal dengan rasa manis dan gurih. Bajigur biasanya dinikmati bersama dengan camilan seperti pisang kukus, kacang rebus, atau ubi rebus. Meskipun nikmat bagi pecinta minuman berbahan dasar kelapa, rasa manisnya yang kental dan pemilihan bahan yang kurang dikenal di luar Indonesia membuat minuman ini mendapat rating yang tidak terlalu tinggi.
5. Kopi Luwak (Rating 4,0/5)
Kopi Luwak, yang dikenal sebagai kopi termahal di dunia, mungkin memiliki reputasi yang lebih baik di kalangan penikmat kopi internasional. Namun, meskipun harganya sangat tinggi dan proses produksinya sangat unik—dengan biji kopi yang dicerna oleh musang sebelum diproses—kopi ini ternyata tidak cukup disukai oleh para penilai Taste Atlas. Bagi sebagian orang, rasa kopi luwak bisa terasa terlalu kuat dan sedikit pahit, meskipun banyak yang menganggapnya sebagai pengalaman mencicipi kopi yang luar biasa.
6. Wedang Jahe (Rating 4,1/5)
Sebagai minuman sederhana yang dibuat dari jahe, gula jawa, dan air panas, wedang jahe memang sudah sangat familiar di banyak rumah tangga Indonesia. Namun, bagi para ahli gastronomi internasional, mungkin rasanya yang terlalu tajam dari rempah-rempah serta kesederhanaan bahan-bahan ini menjadi kurang menarik. Meskipun menyegarkan dan menghangatkan tubuh, wedang jahe hanya berhasil mendapatkan rating 4,1 dari 5 di daftar Taste Atlas.
Meskipun minuman-minuman ini masuk dalam daftar yang kurang mengesankan versi Taste Atlas, kita tidak bisa menafikan bahwa setiap minuman tradisional Indonesia memiliki cerita dan tradisi yang kaya di baliknya. Selera terhadap makanan dan minuman sangat subjektif dan dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan pengalaman masing-masing orang. Bagi masyarakat Indonesia, sekoteng, bandrek, dan wedang jahe tetap menjadi minuman yang memuaskan di musim hujan atau saat perut terasa tidak enak.
Taste Atlas mungkin tidak terlalu mengapresiasi beberapa minuman tradisional ini, tetapi bagi kita, mereka tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehangatan dan kekayaan budaya kuliner Indonesia.(tim)







