EBRITA.COM – Rupiah dibuka melemah 0,79% di angka Rp16.575 per US$ pada pukul 11:11 WIB hari ini, Jumat (28/02/2025), menurut data dari Refinitiv. Posisi ini tercatat sebagai yang terparah sepanjang sejarah rupiah.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 08:54 WIB naik tipis 0,04% menjadi 107,29, lebih tinggi dibandingkan dengan angka 107,24 pada hari sebelumnya (27/02/2025).
Ekonom Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengaitkan pelemahan rupiah pagi ini dengan lonjakan volatilitas pasar dan aksi ambil untung oleh investor. Menurutnya, langkah tersebut berkaitan dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif impor dari Kanada, Meksiko, dan Tiongkok sejak awal 25 Maret.
“Myrdal menjelaskan bahwa selain faktor tarif, pelemahan rupiah juga didorong oleh meningkatnya permintaan dolar AS dari pelaku ekonomi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pembayaran rutin akhir bulan, seperti utang, bunga, dan pembelian barang impor (bahan baku produksi serta barang konsumsi) yang sangat diperlukan menjelang bulan puasa dan Lebaran mendatang,” ujarnya.
Tarif baru terhadap impor dari Cina merupakan tambahan dari bea masuk 10% yang telah diberlakukan awal bulan ini. Amerika Serikat juga menerapkan tarif sebesar 25% untuk seluruh impor dari Kanada dan Meksiko, kecuali produk energi dari Kanada yang hanya dikenakan pajak 10%. Negara-negara tersebut merupakan penjual utama barang ke AS, sehingga jika tarif diberlakukan penuh tanpa penangguhan, nilai impor akan meningkat lebih dari US$1 triliun mulai 4 Maret 2025.
Myrdal memperkirakan bahwa kondisi ini akan mendorong inflasi AS hingga 3,5% pada tahun 2025. Ia juga menambahkan bahwa meski The Fed dan bank sentral lainnya memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga, langkah tersebut terbatas akibat tekanan inflasi yang meningkat.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai bahwa faktor eksternal masih mendominasi pelemahan rupiah. Menurutnya, pasar masih mengantisipasi dampak negatif dari kebijakan tarif Trump dan data GDP Price Index AS kuartal IV yang menunjukkan kenaikan harga, yang menandakan tekanan inflasi kembali.
Ariston mengungkapkan, “Sentimen saat ini cenderung mendukung penguatan dolar AS, dan tekanan terhadap rupiah kemungkinan akan berlanjut selama beberapa bulan ke depan. Peluang penurunan rupiah ke area Rp16.700 per US$ masih terbuka.”
Semoga narasi ini lebih mudah dipahami dan dapat segera digunakan untuk berita yang akan Anda upload.(Tim)





