Ebrita.com – Sebuah kasus mengejutkan mencuat dari lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS). Seorang mahasiswi diduga menjadi korban pelecehan oleh sekelompok mahasiswa saat sedang bermain gim “Truth or Dare” di sebuah kos yang berada di wilayah sekitar kampus. Peristiwa ini pertama kali terungkap melalui unggahan viral di media sosial, yang kemudian memicu perhatian luas dari publik dan civitas akademika UNS.
Menurut narasi yang beredar, mahasiswi tersebut awalnya sedang berada di kos bersama temannya untuk mengerjakan tugas. Tak lama kemudian, beberapa mahasiswa yang baru selesai mengikuti kegiatan voli datang dan bergabung di lokasi tersebut. Situasi yang awalnya biasa saja berubah ketika mereka memutuskan untuk bermain gim “Truth or Dare”.
Namun, menurut laporan dalam unggahan viral itu, permainan tersebut kemudian melenceng dari batas wajar. Tantangan (“dare”) yang diberikan mulai mengarah pada tindakan yang membuat mahasiswi tersebut merasa tidak nyaman. Disebutkan bahwa korban sudah menolak berkali-kali, tetapi tetap ditekan oleh beberapa peserta permainan dengan dalih “sportivitas”.
Dalam kondisi terdesak, korban dikabarkan tetap mengalami tindakan yang membuatnya merasa dilecehkan. Unggahan ini menyebar cepat di media sosial dan langsung memicu amarah publik, terutama mahasiswa UNS yang menuntut tindakan tegas.
Kampus Bergerak: Satgas PPKS Turun Tangan
UNS melalui Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) bergerak cepat menanggapi laporan tersebut. Pada 1 Desember 2025, laporan resmi masuk dan penyelidikan langsung dimulai. Pihak kampus memanggil pelapor, saksi, dan terlapor untuk memberikan keterangan secara bergilir.
Meski begitu, pihak UNS belum mengumumkan jumlah mahasiswa yang terlibat maupun detail hasil pemeriksaan. Mereka menegaskan bahwa seluruh proses masih berjalan dan kampus akan mengambil langkah sesuai regulasi jika bukti menguat.
Publik Soroti Pentingnya Edukasi Consent
Kasus ini mengundang keprihatinan luas, terutama di kalangan mahasiswa. Banyak yang menilai insiden ini menunjukkan masih rendahnya pemahaman tentang consent, batasan pribadi, dan dinamika sosial saat berada dalam kelompok.
Warganet juga ramai mendorong kampus memperketat edukasi dan penegakan aturan terkait pencegahan kekerasan seksual, agar kejadian serupa tidak terulang.
Hingga kini, proses penyelidikan internal masih berlangsung. Publik menunggu transparansi dan ketegasan dari pihak kampus agar kasus ini mendapat penyelesaian yang adil bagi korban maupun pihak terkait lainnya.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa tindakan “main-main” sekalipun dapat berubah menjadi ancaman ketika batasan pribadi dilanggar—dan bahwa lingkungan kampus harus menjadi ruang aman bagi seluruh mahasiswa.(tim)





