Ebrita.com – Banyak orang mengeluh sulit tidur ketika sedang menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau beban pikiran lainnya. Kondisi ini bukan sekadar perasaan, tapi memiliki penjelasan medis yang jelas. Menurut para ahli, stres merupakan salah satu penyebab utama gangguan tidur (insomnia) yang dialami masyarakat modern.
Dokter spesialis saraf, dr. Andini Pratiwi, Sp.S, menjelaskan bahwa stres dapat memicu peningkatan hormon kortisol—hormon yang membuat tubuh berada dalam kondisi “waspada”.
“Saat seseorang stres, tubuh secara otomatis memproduksi lebih banyak kortisol dan adrenalin. Akibatnya, jantung berdebar, napas lebih cepat, dan otak tetap aktif meski sudah waktunya tidur,” jelas dr. Andini kepada wartawan, Selasa (28/10/2025).
Ia menambahkan, kondisi ini membuat otak sulit beralih dari mode “siaga” ke mode “istirahat”. Bahkan ketika akhirnya tertidur, kualitas tidur menjadi tidak dalam dan mudah terbangun di malam hari.
Selain faktor hormon, stres juga bisa memicu kebiasaan buruk sebelum tidur, seperti bermain ponsel terlalu lama, mengonsumsi kafein, atau memikirkan masalah tanpa henti. Semua hal itu semakin memperburuk gangguan tidur.
“Tidur bukan hanya soal durasi, tapi juga kualitas. Kalau stres dibiarkan tanpa manajemen yang baik, bisa berdampak pada kesehatan jantung, sistem imun, dan kondisi mental,” tambahnya.
Untuk mengatasi masalah ini, dokter menyarankan beberapa langkah sederhana:
- Rutin relaksasi sebelum tidur, seperti meditasi atau pernapasan dalam.
- Batasi penggunaan gawai setidaknya 30 menit sebelum tidur.
- Ciptakan suasana kamar yang tenang dan gelap.
- Konsultasi ke dokter jika gangguan tidur berlangsung lebih dari dua minggu.
“Tidur yang cukup adalah pondasi kesehatan. Jadi, jangan anggap sepele gangguan tidur akibat stres. Tubuh butuh waktu untuk pulih setiap malam,” tutup dr. Andini.
Menurut data Kementerian Kesehatan, sekitar 1 dari 3 orang dewasa di Indonesia mengalami gangguan tidur ringan hingga sedang, dan stres menjadi pemicu paling umum. (Tim)





