Ebrita.com – Tidur merupakan kebutuhan dasar tubuh yang tak bisa digantikan. Namun, di tengah padatnya aktivitas dan gaya hidup modern, banyak orang menganggap remeh waktu tidur. Padahal, menurut sejumlah penelitian, tidur kurang dari enam jam per malam dapat berdampak serius pada kesehatan otak dan kestabilan emosi.
Ahli saraf dari Universitas Harvard, Dr. Matthew Walker, menjelaskan bahwa saat seseorang tidur, otak melakukan proses penting seperti konsolidasi memori dan pembuangan racun sisa metabolisme. Jika waktu tidur berkurang, proses ini terganggu.
“Tidur yang cukup membantu otak ‘merapikan’ ingatan dan memperkuat koneksi saraf. Ketika seseorang hanya tidur empat atau lima jam, kemampuan kognitifnya menurun hingga 40 persen,” jelas Dr. Walker, dikutip dari Sleep Journal.
Akibatnya, seseorang jadi sulit berkonsentrasi, mudah lupa, dan kemampuan mengambil keputusan menurun. Dalam jangka panjang, kurang tidur bahkan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit Alzheimer.
Selain memengaruhi fungsi otak, kurang tidur juga berdampak pada keseimbangan emosi. Penelitian dari University of California menemukan bahwa orang yang tidur kurang dari enam jam cenderung lebih reaktif secara emosional.
Ketika otak kekurangan istirahat, bagian amigdala—pusat emosi dalam otak—menjadi lebih aktif, sementara bagian prefrontal cortex yang berfungsi mengontrol emosi justru melemah. Hal ini membuat seseorang lebih mudah tersinggung, cemas, bahkan depresi.
“Tidur ibarat tombol reset alami bagi otak dan perasaan. Tanpanya, emosi kita bisa menjadi tidak terkendali,” ungkap Dr. Eti Ben Simon, peneliti utama dalam studi tersebut.
Para ahli menyarankan orang dewasa tidur antara 7–9 jam setiap malam. Namun, bukan hanya durasi yang penting, kualitas tidur juga harus dijaga. Hindari penggunaan ponsel satu jam sebelum tidur, batasi konsumsi kafein di sore hari, dan ciptakan lingkungan kamar yang tenang dan gelap.
“Tidur bukan tanda kemalasan, melainkan investasi untuk kesehatan jangka panjang,” tutup Dr. Walker. (Tim)





