Ebrita.com – Harga emas batangan bersertifikat PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menorehkan rekor baru. Berdasarkan laman resmi Logam Mulia Antam, Jumat (17/10), harga emas naik Rp78.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.407.000 menjadi Rp2.485.000 per gram.
Kenaikan serupa juga terjadi pada harga buyback atau harga beli kembali oleh Logam Mulia, yang naik Rp78.000 per gram, dari Rp2.256.000 menjadi Rp2.334.000 per gram. Dengan demikian, selisih harga jual dan buyback hari ini mencapai Rp151.000 per gram.
Kenaikan harga emas kali ini memperkuat tren positif sejak awal Oktober. Emas Antam terus menunjukkan performa cemerlang seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global dan potensi pelemahan nilai tukar rupiah.
Selama ini, Antam menetapkan dua jenis harga utama:
- Harga emas — harga jual yang berlaku saat konsumen membeli emas di gerai Logam Mulia.
- Harga buyback — harga yang berlaku saat konsumen menjual kembali emas ke Antam.
Bagi investor, memahami dua harga ini penting agar bisa menghitung potensi cuan dan waktu terbaik untuk jual beli.
Kalkulasi Keuntungan Investor
Berdasarkan data historis, investor yang menahan emas dalam beberapa bulan terakhir meraup keuntungan signifikan.
Berikut simulasi potensi cuan jika menjual emas hari ini (17 Oktober 2025):
- Beli 10 Oktober 2025 @ Rp2.294.000 → Untung 1,74%
- Beli 17 September 2025 @ Rp2.115.000 → Untung 10,35%
- Beli 17 Juli 2025 @ Rp1.919.000 → Untung 21,63%
- Beli 17 April 2025 @ Rp1.975.000 → Untung 18,18%
- Beli 17 Januari 2025 @ Rp1.594.000 → Untung 46,42%
- Beli 17 Oktober 2024 @ Rp1.496.000 → Untung 56,02%
- Beli 17 Juli 2024 @ Rp1.420.000 → Untung 64,37%
- Beli 17 April 2024 @ Rp1.321.000 → Untung 76,68%
- Beli 17 Januari 2024 @ Rp1.121.000 → Untung 108,21%
Kenaikan konsisten ini menegaskan posisi emas sebagai salah satu instrumen investasi paling aman dan stabil dalam jangka panjang.
Meski harga emas kini berada di level tinggi, banyak analis menilai potensi kenaikan belum berakhir. Gejolak ekonomi global, inflasi tinggi, dan tren suku bunga yang belum stabil menjadi faktor pendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Namun, investor disarankan untuk tetap membeli secara bertahap dan memperhatikan selisih harga jual-beli (spread) agar tidak terjebak di harga puncak.
Kenaikan harga emas Antam hingga Rp2.485.000 per gram menjadi sinyal kuat bahwa emas masih menjadi primadona di tengah ketidakpastian ekonomi. Bagi investor jangka panjang, momentum ini menunjukkan bahwa kesabaran adalah kunci utama meraih cuan dari logam mulia.(tim)





