Ebrita.com – Ketika cahaya kamera dahulu menerangi wajahnya, siapa sangka kini gelap jeruji besi menjadi saksi kejatuhannya.
Ammar Zoni — aktor populer, ayah, sekaligus mantan suami Irish Bella — kini resmi dipindahkan ke Pulau Nusakambangan, pulau yang dikenal sebagai penjara paling menyeramkan di Indonesia.
Ia tak lagi sekadar narapidana.
Kini statusnya naik menjadi “high risk inmate” — tahanan berisiko tinggi yang diduga terlibat dalam peredaran narkoba dari balik penjara.
Langkah pemindahan ini dilakukan Kamis (16/10/2025) dini hari.
Dalam foto yang beredar, Ammar tampak dengan mata tertutup kain hitam, tangan terborgol, dan wajah tanpa ekspresi — simbol dari kejatuhan seorang figur publik yang pernah dielu-elukan.
Kasubdit Kerjasama Ditjen Pemasyarakatan, Rika Aprianti, menegaskan bahwa tindakan ini adalah bentuk komitmen negara dalam perang melawan narkoba.
“Siapapun yang terlibat peredaran narkoba akan ditindak,” ujarnya tegas.
Pemindahan ini bukan tanpa alasan.
Investigasi internal menemukan bahwa Ammar Zoni diduga mengatur jalur peredaran sabu dari dalam sel Rutan Salemba, menggunakan aplikasi komunikasi terenkripsi bernama Zangi.
Dari ruang sempit itu, ia diduga tetap menjadi bagian dari jaringan gelap yang memasok narkoba ke luar.
Ironisnya, kasus ini bukan yang pertama.
Ammar Zoni telah tiga kali terjerat narkoba — 2017, 2023, dan kini di 2025.
Berulang kali keluar-masuk penjara, berulang kali pula publik dibuat kecewa dan prihatin.
Seolah rehab, penjara, dan sorotan media tak cukup membuatnya berhenti.
Kini, Nusakambangan menjadi panggung terakhir bagi perjalanan kelamnya — tempat di mana para pembunuh, gembong narkoba, dan koruptor kelas berat menebus dosa sosial mereka.
Ammar ditempatkan di Lapas Super Maximum Security Karang Anyar, tempat di mana setiap langkah diawasi, setiap gerak dicatat.
Langkah pemerintah ini bukan sekadar menghukum, tetapi memberi efek kejut bagi publik: bahwa ketenaran, status artis, dan simpati massa tidak lagi bisa menjadi tameng di hadapan hukum.
Dan bahwa penjara di Indonesia bukan sekadar tempat tahanan tidur dan menunggu bebas, tetapi medan perang melawan sindikat narkoba yang terus merajalela bahkan di balik tembok besi.
Bagi publik, kisah Ammar Zoni menjadi cermin getir:
bahwa popularitas tanpa kendali moral hanya akan berujung pada kehancuran.
Dari sorotan panggung menuju sunyi sel isolasi — perjalanan hidupnya kini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang mencoba bermain-main dengan narkoba.(tim)







