eBrita.com – Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tidak hanya soal angka total, tetapi juga rasio antara laki-laki dan perempuan menjadi topik menarik untuk dibahas. Data terbaru menunjukkan bahwa secara nasional, penduduk laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan, meski dalam beberapa provinsi kondisinya justru terbalik.
Mengacu pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) serta hasil proyeksi kependudukan, jumlah penduduk Indonesia per 2023 diperkirakan mencapai 278,7 juta jiwa. Dari total tersebut, laki-laki berjumlah sekitar 140,79 juta jiwa atau 50,52 persen, sedangkan perempuan mencapai 137,91 juta jiwa atau 49,48 persen. Artinya, terdapat selisih sekitar 2,8 juta jiwa lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan.
Data ini mempertegas tren yang sudah berlangsung lama, di mana penduduk laki-laki memang cenderung lebih banyak secara nasional. Sejak 2010 hingga 2020, sensus penduduk menunjukkan pola yang sama: laki-laki selalu unggul tipis dibanding perempuan.
Jika menilik ke belakang, pada tahun 2018 jumlah penduduk laki-laki tercatat 133,14 juta jiwa, sedangkan perempuan 131,88 juta jiwa. Dua tahun kemudian, hasil sensus 2020 kembali memperlihatkan dominasi laki-laki dengan total 136,66 juta jiwa, sedangkan perempuan 133,54 juta jiwa.
Kondisi ini masih berlanjut hingga kini. Namun menariknya, beberapa lembaga demografi memprediksi bahwa pada tahun 2040, tren bisa saja berbalik. Dengan harapan hidup perempuan yang lebih tinggi, ditambah dengan pola urbanisasi dan faktor sosial-ekonomi, jumlah penduduk perempuan diperkirakan akan melampaui laki-laki.
Meski secara nasional laki-laki mendominasi, terdapat beberapa daerah yang justru memiliki jumlah penduduk perempuan lebih banyak. Tiga provinsi dengan fenomena tersebut antara lain:
DI Yogyakarta: Laki-laki sekitar 1,85 juta jiwa, perempuan sekitar 1,89 juta jiwa.
Jawa Timur: Laki-laki 20,71 juta jiwa, perempuan 20,82 juta jiwa.
Sulawesi Selatan: Laki-laki 4,65 juta jiwa, perempuan 4,71 juta jiwa.
Di wilayah-wilayah ini, faktor seperti migrasi, mobilitas penduduk, hingga tingkat harapan hidup perempuan yang lebih panjang berkontribusi pada ketidakseimbangan jumlah antara laki-laki dan perempuan.
Secara biologis, angka kelahiran bayi laki-laki memang cenderung lebih tinggi dibanding perempuan. Rata-rata, setiap 100 bayi perempuan lahir, terdapat sekitar 102 bayi laki-laki. Hal ini menjadi faktor utama mengapa jumlah laki-laki selalu lebih banyak di awal.
Namun seiring bertambahnya usia, perempuan biasanya memiliki harapan hidup lebih panjang. Karena itu, di usia lanjut, jumlah perempuan sering kali lebih banyak dibanding laki-laki. Kondisi inilah yang membuat proyeksi jangka panjang menunjukkan potensi terbaliknya tren populasi pada beberapa dekade mendatang.
Rasio penduduk berdasarkan jenis kelamin memiliki dampak penting terhadap kebijakan pembangunan. Daerah dengan lebih banyak perempuan tentu memerlukan perhatian lebih dalam hal layanan kesehatan ibu dan anak, pemberdayaan perempuan, serta kesempatan kerja yang setara.
Sementara itu, di wilayah yang didominasi laki-laki, pemerintah perlu memastikan bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan serta program sosial mampu menjaga keseimbangan masyarakat. Hal ini penting agar tidak terjadi ketimpangan sosial yang bisa memengaruhi pembangunan secara keseluruhan.
Dari data terbaru, jelas bahwa Indonesia memiliki lebih banyak penduduk laki-laki dibandingkan perempuan. Meski selisihnya tidak terlalu besar, tren ini menarik untuk diamati, terlebih dengan adanya proyeksi bahwa di masa depan jumlah perempuan bisa menjadi lebih dominan.
Fenomena ini bukan hanya sekadar angka, tetapi juga cerminan dinamika sosial yang akan memengaruhi kebijakan pendidikan, kesehatan, hingga pembangunan ekonomi di masa mendatang. Dengan pemetaan demografi yang jelas, pemerintah maupun masyarakat dapat lebih siap menghadapi tantangan populasi di masa depan.(Tim)







