eBrita.com – Aksi unjuk rasa buruh di depan Gedung DPR RI pada Kamis malam, 28 Agustus 2025, berakhir tragis. Sebuah kendaraan taktis (rantis) milik Brimob dilaporkan menabrak dua pengemudi ojek online (ojol). Satu korban meninggal dunia di tempat, sementara satu lainnya mengalami luka serius. Peristiwa ini sontak memicu gelombang reaksi keras dari masyarakat, lembaga pengawas, hingga Istana Negara.
Demo buruh yang berlangsung sejak siang hari awalnya berjalan damai. Massa menyuarakan aspirasi terkait kebijakan ketenagakerjaan. Namun, menjelang malam, situasi memanas. Di tengah kerumunan, seorang ojol bernama Affan Kurniawan (30) terlihat berusaha menyeberang.
Nahas, ia terpeleset dan jatuh tepat di jalur yang dilalui kendaraan taktis Brimob jenis Barracuda. Rantis yang melaju tak mampu berhenti, hingga akhirnya melindas Affan. Ia meninggal seketika dengan luka parah.
Korban lain, Umar Amarudin (26), juga terkena tabrakan. Ia mengalami patah tulang dan kini dirawat intensif di RS Pelni Jakarta. Saksi mata menyebut suasana saat itu sangat panik, masyarakat berteriak histeris saat menyaksikan peristiwa tersebut.
Rekaman amatir detik-detik insiden langsung tersebar di media sosial. Dalam video berdurasi singkat, terdengar teriakan warga:
“Ya Allah… diinjak, diinjak!”
Unggahan video tersebut menuai ribuan komentar pedas. Warganet menilai pengendalian aparat di lapangan lemah, sehingga nyawa sipil harus melayang sia-sia. Kata kunci “Brimob”, “Ojol Tertabrak”, dan “Tragedi DPR” pun langsung menjadi trending di berbagai platform.
Lembaga Indonesia Police Watch (IPW) bereaksi cepat. Ketua IPW, Sugeng Teguh Santoso, menegaskan bahwa aparat seharusnya mengutamakan keselamatan warga, terlebih saat objek vital seperti Gedung DPR sudah dalam kondisi aman.
“Pengejaran oleh rantis hingga menabrak warga jelas pelanggaran prosedur,” tegas Sugeng.
Sekjen IPW, Data Wardhana, menambahkan bahwa pergerakan rantis terlihat tak terkendali. Ia menilai hal ini bisa memicu korban tambahan. IPW mendesak Propam Mabes Polri segera memeriksa personel Brimob yang bertugas malam itu dan memastikan adanya proses hukum transparan.
Tak hanya masyarakat, pemerintah pusat juga angkat bicara. Juru Bicara Presiden, Mensesneg Prasetyo Hadi, meminta Polri mengusut tuntas kasus ini. Menurutnya, pengamanan demonstrasi harus dijalankan dengan hati-hati dan profesional agar tidak mengorbankan warga sipil.
“Istana menyayangkan insiden ini. Harus ada evaluasi menyeluruh agar tidak terulang,” ujarnya di Jakarta.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa peristiwa di Pejompongan bukan sekadar insiden biasa, tetapi menyangkut kredibilitas Polri di mata publik.
Keluarga Affan Kurniawan tak bisa menahan tangis saat jenazah dipulangkan. Affan dikenal sebagai tulang punggung keluarga. Sementara Umar, yang masih dirawat, mendapat simpati luas. Ribuan netizen mendoakan kesembuhannya dan menuntut agar korban mendapat keadilan.
Tagar #KeadilanUntukOjol sempat menduduki daftar trending di X (Twitter). Banyak aktivis buruh, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat menyuarakan keprihatinan dan menuntut reformasi besar dalam pola pengamanan aksi massa.
Tragedi ini membuka diskusi luas soal standar operasional pengamanan demonstrasi. Penggunaan kendaraan taktis dalam kerumunan dinilai rawan menimbulkan korban. Para pengamat hukum menyebut Polri harus lebih menekankan pendekatan persuasif ketimbang represif.
Selain itu, aspek komando di lapangan menjadi sorotan. Apakah perintah pengejaran memang dikeluarkan secara resmi, atau justru tindakan individu yang tak terkendali? Jawaban atas pertanyaan ini sangat menentukan langkah lanjutan terhadap kasus tersebut.
Peristiwa tabrakan maut di depan Gedung DPR RI menjadi tragedi yang mengguncang hati publik. Seorang ojol kehilangan nyawa, seorang lainnya berjuang melawan luka, sementara citra aparat keamanan kembali dipertanyakan.
Masyarakat berharap kasus ini diusut tuntas secara transparan. Evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pengamanan menjadi hal mutlak agar tragedi serupa tak terulang.
Kini, publik menunggu keberanian Polri untuk bertindak cepat, adil, dan profesional dalam menangani kasus yang telah menjadi sorotan nasional ini.(Tim)







