Ebrita.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Kepala Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mayor Jenderal Hossein Salami, mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel. Dalam sebuah video yang disiarkan oleh kantor berita Iran, Tasnim, pada Kamis (8/5/2025), Salami menyatakan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan memicu pembukaan gerbang neraka.
Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap ancaman Israel yang menyatakan akan melakukan tindakan terhadap Iran serupa dengan yang telah dilakukan terhadap Hamas. Salami menegaskan bahwa jika Amerika Serikat atau Israel melakukan kesalahan sekecil apa pun, Iran akan membuka gerbang neraka bagi mereka.
Ketegangan ini semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman meluncurkan rudal yang mendarat di dekat Bandara Ben Gurion, Israel. Sebagai respons, Israel menyerang bandara di ibu kota Yaman, Sanaa, serta tiga pangkalan militer lainnya. Israel menuduh Iran berada di balik serangan Houthi tersebut, meskipun Iran membantah keterlibatan langsung.
Dalam konteks ini, Iran juga mengungkapkan pengembangan rudal balistik baru bernama “Qassem Bassir” dengan jangkauan 1.200 km, menunjukkan peningkatan kapabilitas militernya. Rudal ini diklaim memiliki kemampuan manuver tinggi dan dapat menghindari sistem pertahanan anti-rudal.
Sementara itu, Iran menyatakan bahwa mereka tidak menginginkan konflik, namun siap untuk membalas jika diserang. Pernyataan Iran ini menandakan eskalasi serius dalam hubungan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, dengan potensi dampak signifikan terhadap stabilitas regional.
Peringatan keras dari Iran ini mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah. Dengan keterlibatan berbagai aktor seperti Israel, Amerika Serikat, dan kelompok-kelompok yang didukung Iran seperti Houthi, situasi ini berpotensi berkembang menjadi konflik yang lebih luas. Pengembangan rudal balistik oleh Iran juga menunjukkan bahwa negara tersebut terus meningkatkan kapabilitas militernya di tengah tekanan internasional.
Dalam menghadapi situasi ini, komunitas internasional perlu mendorong dialog dan diplomasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat mengancam stabilitas kawasan dan keselamatan sipil.(Tim)







