Ebrita.com — Mantan Wali Kota Sungai Penuh, Ahmadi Zubir, akhirnya angkat bicara kepada publik usai memberikan kesaksian dalam persidangan kasus dugaan pengerusakan Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada pelaksanaan Pilkada tahun lalu. Dalam keterangannya, Ahmadi dengan tegas membantah keterlibatannya dalam insiden tersebut.
Kepada awak media, Ahmadi menjelaskan bahwa saat peristiwa pengerusakan TPS itu terjadi, dirinya masih berstatus sebagai calon wali kota yang tengah mengikuti kontestasi politik. Fokus utamanya saat itu, menurutnya, adalah pada proses penghitungan suara di berbagai TPS yang tersebar di wilayah Sungai Penuh.
“Saat itu saya sedang fokus pada proses rekapitulasi dan perolehan suara. Jadi kalau ada insiden pengerusakan TPS, saya sama sekali tidak tahu. Saya anggap itu sebagai insiden tak terduga yang terjadi di luar kendali saya,” ungkap Ahmadi.
Ia juga menegaskan bahwa secara pribadi maupun sebagai kepala daerah saat itu, dirinya tidak menginginkan adanya kekacauan atau kerusuhan dalam proses demokrasi. Menurutnya, kejadian semacam itu justru akan mencoreng nama baiknya sebagai wali kota yang masih menjabat pada waktu itu.
“Saya juga tidak mau kejadian seperti itu terjadi, karena kalau sampai ada kerusuhan atau insiden semacam itu, nama baik saya yang juga dipertaruhkan. Waktu itu saya masih menjabat sebagai wali kota. Tentu saya tidak ingin nama saya tercoreng akibat hal-hal seperti itu,” katanya.
Dalam bagian akhir keterangannya, Ahmadi Zubir juga membantah semua isu miring yang mengaitkan dirinya dengan insiden pengerusakan tersebut. Ia menilai bahwa dalam sebuah kontestasi politik, menang atau kalah adalah hal yang wajar, dan dirinya sudah menerima hasil Pilkada dengan lapang dada.
“Saya tidak ada kaitannya dengan peristiwa itu. Dalam pertarungan politik, sudah biasa kalau hasil akhirnya ada yang kalah dan ada yang menang. Dan saya sudah menerima hasil itu dengan legowo. Jadi kalau ada isu-isu negatif tentang saya, saya tegaskan itu tidak benar,” tutupnya.
Persidangan kasus pengerusakan TPS ini sendiri masih terus bergulir, dengan menghadirkan sejumlah saksi dan bukti. Publik pun menanti sejauh mana proses hukum ini akan mengungkap fakta-fakta di balik insiden yang sempat mencoreng jalannya demokrasi di Kota Sungai Penuh tersebut.(Tim)






