ebrita.com
Kamis, 4 Juni 2026
  • Home
  • Daerah
    • Kota Jambi
    • Kerinci
    • Bungo
    • Muaro Jambi
    • Sungai Penuh
    • Tanjabar
    • Sarolangun
    • Merangin
    • Tanjabtim
    • Tebo
  • Pilkada 2024
  • Politik
  • Hukum
  • Nasional
  • Showbiz
  • Advetorial
  • Kolom
Tidak Ada Hasil
Tampilkan Semua Hasil
Indeks
  • Home
  • Daerah
    • Kota Jambi
    • Kerinci
    • Bungo
    • Muaro Jambi
    • Sungai Penuh
    • Tanjabar
    • Sarolangun
    • Merangin
    • Tanjabtim
    • Tebo
  • Pilkada 2024
  • Politik
  • Hukum
  • Nasional
  • Showbiz
  • Advetorial
  • Kolom
Tidak Ada Hasil
Tampilkan Semua Hasil
ebrita.com
Tidak Ada Hasil
Tampilkan Semua Hasil
Home Daerah Pilgub Politik Hukum Nasional Showbiz Advetorial Kolom
Home Uncategorized

Sejarah Salat Id di Lapangan: Muhammadiyah sebagai Pelopor di Masa Kolonial

30/03/2025
in Uncategorized
2 min read
Sejarah Salat Id di Lapangan: Muhammadiyah sebagai Pelopor di Masa Kolonial
178
DIBAGIKAN
168
DILIHAT
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WA

BacaJuga

Gubernur Al Haris Tinjau Korban Kebakaran di Tanjab Barat, Serahkan Bantuan dan Ajak Gotong Royong

Wali Kota Alfin Lantik Lima Kades PAW Sungai Penuh

eBrita.com – Pelaksanaan salat Idulfitri di lapangan terbuka kini menjadi tradisi yang umum di Indonesia. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa kebiasaan ini berakar dari masa kolonial Belanda dan pertama kali dipelopori oleh organisasi Islam Muhammadiyah.

Sebelum abad ke-20, umat Islam di Indonesia umumnya melaksanakan salat Idulfitri dan Iduladha di masjid atau surau. Namun, pada tahun 1925, Muhammadiyah menginisiasi pelaksanaan salat Idulfitri di lapangan Kota Yogyakarta. Saat itu, sekitar 5.000 jamaah berkumpul untuk menunaikan salat di ruang terbuka.

Tujuan utama dari inovasi ini adalah untuk menjangkau lebih banyak jamaah sekaligus memperkuat syiar Islam. Dengan melaksanakan salat di lapangan, dakwah Islam dapat lebih luas tersebar, serta memberikan kesan mendalam bagi umat Muslim yang hadir.

Keputusan Muhammadiyah untuk menggelar salat Id di lapangan sempat mendapat tentangan dari pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah kolonial khawatir bahwa perkumpulan besar umat Islam di ruang terbuka bisa menimbulkan potensi perlawanan terhadap kolonialisme. Akibatnya, mereka menetapkan aturan bahwa setiap pelaksanaan salat Id di lapangan harus memperoleh izin dari kepolisian.

Pada Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya tahun 1926, organisasi ini semakin menegaskan komitmennya dengan menyerukan kepada semua cabang Muhammadiyah untuk menyelenggarakan salat Id di lapangan. Meski demikian, banyak insiden terjadi di mana kepolisian kolonial menghalangi atau bahkan membubarkan pelaksanaan salat karena alasan administratif. Beberapa pengurus Muhammadiyah bahkan sempat ditahan atau diperiksa oleh pihak kepolisian karena dianggap melanggar aturan kolonial.

Muhammadiyah tidak tinggal diam menghadapi tantangan ini. Pada Kongres Muhammadiyah ke-23 di Yogyakarta tahun 1934, diputuskan bahwa cabang-cabang Muhammadiyah tidak perlu lagi meminta izin kepada kepolisian untuk melaksanakan salat Id di lapangan. Jika tetap dipaksa untuk meminta izin, maka keputusan kongres menyatakan bahwa izin cukup diminta sekali untuk selamanya dan berlaku di seluruh Indonesia.

Keputusan ini menjadi langkah besar dalam melawan aturan kolonial yang mengekang kebebasan beribadah umat Islam. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini semakin meluas dan diterima oleh masyarakat luas. Hingga kini, pelaksanaan salat Id di lapangan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri dan Iduladha di Indonesia.

Inovasi yang diperkenalkan Muhammadiyah hampir satu abad lalu kini menjadi praktik umum di berbagai daerah. Lapangan, alun-alun, hingga stadion menjadi tempat yang dipilih untuk pelaksanaan salat Id berjamaah. Tradisi ini tidak hanya meningkatkan kebersamaan umat Islam, tetapi juga memperkuat nilai-nilai persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan di masa lalu, semangat perjuangan Muhammadiyah dalam mempopulerkan salat Id di lapangan telah memberikan kontribusi besar dalam syiar Islam di Indonesia. Kini, ribuan umat Islam dapat bersama-sama merayakan hari kemenangan di ruang terbuka, sebagaimana yang pertama kali diperkenalkan oleh para pendahulu mereka hampir satu abad yang lalu.(Tim)

Print Friendly, PDF & Email
Topik: HeadlineLapanganMuhammadiyahPeloporSejarahSholat EID

TerkaitBerita

Gubernur Al Haris Lepas Kloter Perdana Keberangkatan Haji 2026 Provinsi Jambi

Gubernur Al Haris Lepas Kloter Perdana Keberangkatan Haji 2026 Provinsi Jambi

05/05/2026
634
Kode Redeem FC Mobile 6 Februari: Hadiah TOTY hingga Rank Up Tokens, Klaim Sebelum Habis

Update Kode Redeem FC Mobile Terbaru Februari 2026, Peluang Klaim Pemain Icon dan Ribuan Gems Gratis

23/02/2026
220
Kode Redeem EA FC Mobile 4 Februari, Klaim Hadiah Gratis Hari Ini

Kode Redeem EA FC Mobile 4 Februari, Klaim Hadiah Gratis Hari Ini

04/02/2026
117
35 Kode Redeem Genshin Impact, Klaim Hadiah Gratis Hari Ini

35 Kode Redeem Genshin Impact, Klaim Hadiah Gratis Hari Ini

04/02/2026
138

KOLOM

Tender RSUD Kerinci Bernilai Rp137,5 Miliar Tuntas, Mimpi Besar Layanan Kesehatan Segera Terwujud

Tender RSUD Kerinci Bernilai Rp137,5 Miliar Tuntas, Mimpi Besar Layanan Kesehatan Segera Terwujud

2 Juni 2026

KANAL

  • Advetorial
  • Bisnis
  • Bungo
  • Daerah
  • Entertaiment
  • Healt
  • Hukrim
  • Hukum
  • Jambi
  • Kerinci
  • Kolom
  • Kota Jambi
  • Life Style
  • Merangin
  • Muaro Jambi
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sarolangun
  • Showbiz
  • Sosbud
  • Sport
  • Sungai Penuh
  • Tanjabar
  • Tanjabtim
  • Tanjung Jabung Barat
  • Tebo
  • Uncategorized

MENU

  • Home
  • Redaksi
  • Iklan
  • Privacy & Policy
ebrita.com

PT. Ebrita Jambi Media

Redaksi : Jalan Depati Parbo, Koto Lebu, Kec. Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh.

Copyright © 2020 EBRITA.COM - Member of IWO | Dev by YD4AFG

  • Home
  • Redaksi
  • Iklan