Ebrita.com – Setiap tanggal 17 Ramadhan, umat Islam di Indonesia memperingati peristiwa penting dalam sejarah Islam, yaitu Nuzulul Quran atau turunnya Al-Qur’an. Namun, banyak yang bertanya, mengapa Nuzulul Quran diperingati pada tanggal tersebut, sedangkan Al-Qur’an diyakini turun di malam Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan?
Untuk memahami perbedaan ini, kita perlu menelusuri sejarah turunnya Al-Qur’an serta amalan yang dianjurkan di malam Nuzulul Quran.
Dua Tahap Turunnya Al-Qur’an
Para ulama sepakat bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahap utama:
Tahap Pertama: Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuzh (tempat penyimpanan di sisi Allah) ke Baitul ‘Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul Qadar. Ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Qadr ayat 1:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)
Tahap Kedua: Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril selama 23 tahun, dimulai dari wahyu pertama di Gua Hira.
Mengapa Diperingati 17 Ramadhan?
Peringatan Nuzulul Quran pada tanggal 17 Ramadhan didasarkan pada beberapa riwayat dan pandangan ulama yang menyebutkan bahwa wahyu pertama berupa Surah Al-‘Alaq ayat 1-5 diturunkan pada tanggal tersebut.
Menurut catatan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, wahyu pertama turun di bulan Ramadhan, dan banyak ulama menetapkan peristiwa tersebut pada 17 Ramadhan.
Dengan turunnya wahyu pertama ini, Nabi Muhammad SAW resmi diangkat sebagai Rasul terakhir yang membawa petunjuk bagi umat manusia.
Perbedaan Lailatul Qadar dan Nuzulul Quran
Meskipun keduanya berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an, terdapat perbedaan mendasar antara Lailatul Qadar dan Nuzulul Quran:
Lailatul Qadar adalah malam istimewa di sepuluh malam terakhir Ramadhan di mana Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia. Malam ini memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3).
Nuzulul Quran adalah peringatan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW yang menandai dimulainya tugas kenabian.
Malam Nuzulul Quran adalah waktu yang penuh berkah. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sebagai bentuk syukur atas diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.
Beberapa amalan yang dianjurkan di malam Nuzulul Quran antara lain:
Membaca dan Merenungi Al-Qur’an
Memperbanyak tilawah (membaca) Al-Qur’an dengan merenungi maknanya menjadi amalan utama. Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Salat tahajud di malam Nuzulul Quran menjadi sarana untuk memohon ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Bersedekah di malam penuh berkah ini memiliki nilai pahala yang berlipat ganda.
Memperbanyak Doa dan Dzikir
Salah satu doa yang dianjurkan adalah:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
(Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, menyukai ampunan, maka ampunilah aku).
Mengikuti Kajian dan Peringatan Nuzulul Quran
Banyak masjid dan lembaga Islam mengadakan ceramah atau kajian khusus tentang Al-Qur’an di malam ini sebagai bentuk syiar Islam.
Peringatan Nuzulul Quran di Indonesia
Di Indonesia, Nuzulul Quran menjadi momen penting di bulan Ramadhan. Berbagai kegiatan keagamaan seperti tadarus, ceramah, dan santunan kepada kaum dhuafa digelar untuk memperingati turunnya kitab suci Al-Qur’an.
Peringatan ini bukan sekadar tradisi, melainkan ajakan bagi umat Islam untuk kembali kepada ajaran Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang sempurna.
Peringatan Nuzulul Quran pada 17 Ramadhan memiliki dasar sejarah yang kuat, yaitu turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Meski Al-Qur’an secara keseluruhan turun di Lailatul Qadar, tanggal 17 Ramadhan menjadi simbol awal mula turunnya petunjuk Ilahi bagi umat manusia.
Dengan memperingati Nuzulul Quran, umat Islam diingatkan untuk terus membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. (Tim)





