KERINCI – Sempat Viral di medsos terkait bocah yang mengidap kanker tulang yang mengharuskan kaki kirinya di amputasi.
Setelah mendapatkan informasi tersebut Kapolres Kerinci AKBP Muhamad Mujib, S.H.S.I.K. langsung mendatangi Bunga Syakinah (16), remaja dari keluarga tidak mampu di Desa Lempur Mudik, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci. Kamis (11/7/2024).
Kapolres Kerinci berkunjung bersama Ketua Bhayangkari Cabang Kerinci Ny. Desi Mujib, dan Kasi Dokkes Polres Kerinci Ipda Dr. Yollan Santika serta anggota Polres Kerinci dan pengurus Bhayangkari.
Setibanya di rumah Bunga Syakinah, Kapolres Kerinci AKBP Muhamad Mujib tak mampu menahan haru melihat kondisi anak tersebut.
Bagaimana tidak, kaki sebelah kiri Bunga harus di amputasi kerena kanker tulang hingga membuat remaja tersebut hanya tergolek lemas di tempat tidur lantaran terserang kanker tulang.
“Kami prihatin melihat kondisi Bunga Syakinah dan sebagai bentuk kepedulian kami berikan tali asih berupa uang yang layak serta sembako dan juga kami membawa dokter dari Klinik Polres Kerinci untuk memeriksa kesehatan Bunga dan memberikan obat-obatan,” ungkapnya.
Kapolres Kerinci berharap tali asih bisa meringankan beban keluarga tersebut, yang tentu membutuhkan biaya banyak.
AKBP Muhamad Mujib meminta keluarga tetap bersabar dan optimis bisa sembuh.
“Upaya berobat sudah dilakukan namun belum juga sembuh maka kami terus berikan semangat pada keluarga untuk tabah karena dibalik kesusahan ada hikmah,” tandas Kapolres.
Kabar tersebut diperoleh Kapolres dari laporan Polsek Gunung Raya beberapa hari yang lalu. Selanjutnya Kapolres mendatangi rumah Bunga.
Sebagai informasi, Bunga Syakinah (16) terserang kanker tulang. Upaya pengobatan sudah dilakukan dengan dibedah dan disinar kemotherapi, namun belum kunjung membaik.
Dokter mendiagnosis dia terkena ostreosarcoma atau kanker tulang yang saat ini telah menjalar ke paru-paru.
Kini Bunga yang berasal dari keluarga miskin itu berharap penyakitnya segera diobati. Uluran tangan warga yang mampu sangat dinanti, karena ekonomi keluarga hanya ditopang dari penghasilan ayahnya, Sumardi yang hanya petani. (***)






