JAKARTA – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berharap Pemilu 2024 dapat menghadirkan kepemimpinan yang semakin membawa perubahan. Selain keniscayaan, ia menilai ini amanah sejarah, amanah lintas generasi, dan amanah lintas kepemimpinan.
Adapun menurutnya kontestasi yang baik bukan tergantung pada poros paslon capres-cawapres. Melainkan penyelesaian berbagai masalah politik yang ada.
“Sebetulnya bukan masalah dua atau tiga poros lebih baik atau berapa pun jumlahnya. Pada akhirnya kalau kita tidak melihat sumber masalah, maka berapa pun jumlah poros, siapa pun yang mengikuti pemilu, maka bisa menimbulkan prahara sekaligus polarisasi,” kata AHY dalam rilisnya dikutip ebrita, Selasa (2/8).
AHY menilai ada tiga permasalahan demokrasi di Indonesia yang harus diberantas. Pertama yakni money politics.
“Di sini banyak generasi muda, saya juga mengajak mari kita sama-sama kawal pemilu ini agar tidak terjadi eksploitasi politik uang yang berlebihan, vote buying, ini bahaya. Karena hanya mereka yang memiliki uang akhirnya yang bisa menguasai politik dan pada akhirnya mengawasi negara kita,” ujar dia.
Selanjutnya yakni politik identitas yang kerap terjadi pada setiap pemilu. Ia berharap, ini tak berlanjut pada Pemilu 2024 mendatang.
“Bukan sesuatu yang baru memang, sejak dulu sudah ada, tetapi jika dieksploitasi secara berlebihan, politik agama, suku, ras dan identitas lainnya, maka ini berbahaya. Ini hanya menimbulkan perpecahan di antara kita dan sentimen itu akan diteruskan ke generasi selanjutnya, anak cucu kita, cost-nya terlalu tinggi,” tutur AHY.
Terakhir, putra Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menyoroti politik fitnah, hoaks, fake news, dan black campaign yang selalu menjadi masalah bersama dalam pemilu. Ia mengajak masyarakat tak lagi terbawa hal tersebut, termasuk fenomena buzzer.
“Kita tenggelam dalam tsunami informasi dan sekaligus disinformasi. Oleh karena itu, mari kita memiliki sebuah mekanisme sebagai bangsa untuk melawan itu semua. Jangan dibiarkan bangsa kita dihancurkan oleh perilaku buzzer-buzzer yang hanya ingin meruntuhkan persatuan di antara kita,” ujarnya.
“Kalau kita berkomitmen semua itu, dua pasang, tiga pasang, empat pasang, atau berapa pun Indonesia tidak akan pecah, dan pemilu kita berkualitas dan Indonesia akan semakin maju ke depan,” tambah dia.
AHY berjanji pihaknya berkomitmen dalam mencegah polarisasi saat Pemilu 2024 nanti. Salah satunya dengan membangun literasi politik di kalangan pemuda.
“Kita harus terus membangun literasi politik. Generasi muda jumlahnya semakin besar, diperkirakan generasi milenial ditambah dengan generasi Z, termasuk pemilih pemula di dalamnya, akan berada di komposisi 60% dari total jumlah pemilih di 2024. Jumlahnya besar, mereka yang paling aktif, dan mereka yang paling dinamis, termasuk di dalam ruang digital democracy,” tutur dia.
Literasi yang dimaksud, lanjut AHY, bukan hanya memberi kesadaran anak muda untuk memilih. Namun juga menjamin kualitas pemilih dalam menggunakan haknya.
“Saya yakin kita semua akan semakin senang jika semakin banyak yang datang ke TPS, tapi pada akhirnya, demokrasi tidak boleh dihitung hanya dari regularitas penyelenggaraan pemilu. Kualitasnya bagaimana? Kualitas dan rasionalitas dari sang pemilih untuk menggunakan haknya untuk memilih pemimpin. Harapannya tentu kita mengisi ruang itu sama-sama,” ujar dia.
“Berdasarkan hasil survei terakhir, antusiasme anak-anak muda meningkat untuk mengikuti Pemilu 2024. Mudah-mudahan antusiasme tersebut bukan didasari oleh politik uang, politik identitas dan politik fitnah, tetapi karena benar-benar ingin menjadi motor perubahan dan perbaikan Indonesia,” pungkas dia. (*)







