Oleh: Silvia (Mahasiswi Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya)
Merebaknya pandemi COVID-19 mendorong Program Studi Psikologi Fakultas Universitas Sriwijaya (Unsri) untuk memberlakukan adanya sistem Praktik Kerja Lapangan (PKL) mandiri sejak awal tahun 2021. Sistem PKL mandiri ditetapkan sebagai upaya untuk mengurangi penyebaran virus COVID-19 yang lebih luas, sehingga pengabdian kepada masyarakat tetap terjalan dengan aman. Dengan diberlakukannya PKL mandiri, mahasiswa akan melaksanakan PKL di daerah tempat tinggalnya sendiri dengan syarat tetap menerapkan protokol kesehatan.
Silvia merupakan salah satu mahasiswi Program Studi Psikologi FK Unsri angkatan 2018 yang melaksanakan PKL secara mandiri dibimbing oleh satu orang dosen yaitu Bapak Indra Prapto Nugroho S.Psi., M.Si., untuk organisasi olahraga disabilitas yang bernama National Paralympic Committee Provinsi Jambi. Sejalan dengan hal tersebut, persiapan kondisi psikologis atlet penyandang tunagrahita menuju ajang kejuaraan Peparprov menjadi fokus dari kegiatan PKL yang berdurasi selama satu bulan ini.

Dalam menghadapi ajang kejuaraan, kondisi psikologis seorang atlet merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap performanya. Berdasarkan pada hasil wawancara yang telah dilakukan kepada atlet penyandang tunagrahita dan pelatih, diketahui bahwa sampai saat ini atlet tersebut masih belum pernah menjalani suatu langkah yang tepat untuk menjaga dengan baik kondisi psikologis mereka demi berpartisipasi dalam ajang kejuaraan.
Berkat adanya kerja sama dengan lima orang atlet penyandang tunagrahita, kemudian Bapak Saprizal selaku Ketua Umum NPC, Bapak Haidir, Bapak Adi Wibowo, Bapak Ariyanto selaku pelatih atlet serta bimbingan Bapak Indra Prapto Nugroho S.Psi., M.Si., rangkaian kegiatan PKL dengan fokus persiapan kondisi psikologis atlet penyandang tunagrahita menuju ajang kejuaraan dapat berjalan dengan lancar.

Rangkaian intervensi yang dilaksanakan pada PKL ini berupa psikoedukasi yang melibatkan adanya praktik langsung dari tiga macam teknik mindfulness (bernapas 4-7-8, butterfly hug, dan genggam jari), serta adanya pembuatan mindfulness weekly planner agar teknik yang sudah diajarkan tersebut dapat dipraktikkan oleh para atlet secara berkala. Intervensi kali ini sengaja dimodifikasi dengan adanya praktik secara langsung mengingat adanya keterbatasan dari para atlet dalam menerima dan mengolah informasi yang diterima.
Intervensi yang telah dilakukan selama satu minggu lebih ini memunculkan respon yang cukup baik. Berdasarkan pada pernyataan dari para atlet tersebut, mereka mulai terbiasa dan sangat ingat setiap harinya untuk melaksanakan teknik yang telah diajarkan. Para atlet mengaku bahwa ketika dirinya merasa sedang gelisah, mereka akan melakukan teknik tersebut secara mandiri dan mendapatkan hasil bahwa perasaannya menjadi lebih tenang atau relaks daripada sebelumnya.
Selaras dengan tujuan dilaksanakannya intervensi yaitu terjaganya kondisi psikologis atlet penyandang tunagrahita menuju ajang kejuaraan, maka saat ini para atlet telah mengetahui bagaimana langkah yang tepat untuk melengkapi tujuan tersebut. Masing-masing dari atlet pun mengungkap bahwa mereka akan lebih rajin menerapkan teknik yang telah diajarkan bahkan ketika ajang kejuaraan telah selesai, hal ini dilakukan demi mempersiapkan diri mereka menjadi lebih matang lagi untuk ajang kejuaraan berikutnya.





