Ebrita.com – Di era digital seperti saat ini, aktivitas sehari-hari hampir tidak bisa lepas dari layar. Mulai dari bekerja, belajar, hingga bersosialisasi dilakukan melalui perangkat elektronik seperti ponsel, laptop, atau tablet. Namun, penggunaan layar berlebihan kini memunculkan fenomena yang disebut digital fatigue atau kelelahan digital.
Kelelahan digital adalah kondisi ketika seseorang mengalami keletihan fisik dan mental akibat paparan layar dalam waktu lama. Gejala yang paling sering dirasakan antara lain mata lelah, sakit kepala, sulit konsentrasi, mudah marah, dan perasaan cemas berlebih.
Menurut Psikolog Klinis dari Universitas Indonesia, dr. Nurul Hanifah, M.Psi, kelelahan digital bukan hanya berdampak pada kesehatan mata, tetapi juga memengaruhi kondisi emosional seseorang.
“Paparan layar yang terus-menerus membuat otak kita bekerja tanpa jeda. Ketika tubuh tidak diberi waktu istirahat, sistem saraf bisa mengalami stres kronis yang berdampak pada suasana hati dan produktivitas,” ujarnya, Sabtu (25/10/2025).
Fenomena ini meningkat pesat sejak masa pandemi COVID-19, ketika aktivitas daring menjadi kebiasaan baru. Meskipun kini aktivitas tatap muka sudah kembali normal kebiasaan tersebut masih berlanjut. Banyak orang tetap menghabiskan lebih dari 8 jam sehari di depan layar, baik untuk pekerjaan maupun hiburan.
Ahli kesehatan mata juga mengingatkan bahaya Computer Vision Syndrome (CVS) yang ditandai dengan mata kering, pandangan kabur, dan nyeri leher.
“Bukan hanya otak yang lelah, mata juga mengalami tekanan akibat jarang berkedip saat menatap layar. Jika dibiarkan, bisa menurunkan kualitas penglihatan,” jelas dr. Yani Pradipta, Sp.M, dokter spesialis mata di Jakarta.
Untuk mengatasi digital fatigue, para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana, di antaranya:
- Aturan 20-20-20: Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki selama 20 detik.
- Batasi notifikasi dari media sosial agar tidak memicu kecemasan digital.
- Gunakan waktu istirahat tanpa gawai, seperti berjalan santai atau membaca buku fisik.
- Pastikan pencahayaan ruangan cukup dan jarak pandang ke layar tidak terlalu dekat.
- Atur jam tidur dengan menghindari penggunaan ponsel setidaknya 30 menit sebelum tidur.
Kelelahan digital menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya membantu kehidupan bukan menguasainya. Dengan kesadaran dan pengaturan waktu yang tepat, penggunaan gawai tetap bisa mendukung produktivitas tanpa mengorbankan kesehatan mental dan fisik. (Tim)







