Ebrita.com – Operasi pencarian korban tragedi ambruknya bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny masih terus berjalan hingga hari ketujuh. Minggu dini hari (5/10/2025), tim SAR gabungan kembali menemukan 8 jenazah dari reruntuhan sektor A3 antara pukul 00.15 hingga 01.48 WIB. Dengan tambahan tersebut, total korban meninggal kini mencapai 34 orang, termasuk satu bagian tubuh (body part).
Tim terus membersihkan puing dan mengakses sektor utara bangunan yang kini tidak lagi terhubung dengan struktur utama. Data terakhir mencatat 138 orang terdampak insiden ini: 104 selamat, 34 meninggal, dan puluhan lainnya masih belum teridentifikasi atau dalam pencarian lebih lanjut.
Insiden terjadi pada 29 September 2025, ketika pondasi bangunan musala dalam pengerjaan tambahan lantai mengalami kegagalan struktur tengah pengecoran (casting) sehingga runtuh mendadak saat santri sedang menunaikan salat ashar.
Versi lain menyebut bahwa pondasi bangunan lama tidak kuat menahan beban tambahan dari lantai yang sedang dibangun tanpa izin yang jelas.
Sebanyak 14 santri sudah dievakuasi dalam kondisi selamat dan sedang menjalani perawatan medis, dengan sebagian dalam kondisi kritis.
Seorang santri bernama Nur Ahmad kehilangan lengannya akibat reruntuhan beton yang menimpa tubuhnya saat evakuasi berlangsung.
Rescuers memasok oksigen dan air kepada korban yang masih terperangkap dalam puing-puing, sambil menggunakan alat berat seperti crane untuk memindahkan material besar secara hati-hati.
Tim SAR menghadapi kondisi medan yang sulit, puing yang tidak stabil, sisa struktur bangunan yang rawan ambruk lagi, serta akses yang terbatas ke area terdalam reruntuhan.
Pembersihan dan evakuasi dilakukan bergantian agar tenaga petugas tetap terjaga. Penggunaan alat berat disetujui oleh keluarga korban agar proses evakuasi dapat dipercepat tanpa menimbulkan risiko tambahan terhadap jiwa.
Pihak berwenang telah membuka penyelidikan terkait pembangunan struktur yang mengalami keruntuhan. Dugaan pelanggaran izin dan kekurangan aspek teknis pada konstruksi menjadi salah satu fokus utama penyidikan.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Badan Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, serta instansi lokal mengerahkan sumber daya maksimal untuk mendukung operasi SAR dan pelayanan kepada korban. (Tim)





