NEW YORK, ebrita.com – Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali memanas. Dalam pernyataan mengejutkan di hadapan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyatakan dengan tegas bahwa negaranya tidak akan menghentikan serangan terhadap Iran sampai ancaman nuklir dari Teheran sepenuhnya dimusnahkan.
“Kami tidak akan berhenti,” ujar Danon lantang dalam forum resmi di markas PBB, Jumat (20/6/2025) waktu setempat. “Tidak sampai ancaman nuklir Iran dimusnahkan, tidak sampai mesin perangnya dilucuti, dan tidak sampai rakyat kami—dan rakyat Anda—aman,” tambahnya.
Pernyataan Danon langsung disambut dengan reaksi keras dari Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeed Iravani, yang mendesak Dewan Keamanan bertindak cepat menghentikan agresi Israel.
“Israel menyatakan akan terus melancarkan serangan sebanyak hari yang mereka perlukan. Ini bukan hanya ancaman terhadap Iran, tetapi terhadap stabilitas kawasan,” tegas Iravani. Ia juga menyuarakan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat bisa ikut campur secara militer.
Ketegangan makin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum tajam kepada Teheran. Trump memberi Iran waktu maksimal dua minggu untuk menghindari kemungkinan serangan udara AS.
“Iran harus mengambil langkah cepat. Waktu mereka hampir habis,” kata Trump dalam konferensi pers di Washington, memperkuat sinyal kemungkinan keterlibatan langsung AS dalam konflik.
Sementara itu, dari Tel Aviv, Kepala Staf Umum Militer Israel, Eyal Zamir, memperingatkan warga Israel untuk bersiap menghadapi konflik yang panjang. “Kami telah memulai operasi paling kompleks dalam sejarah militer kami. Ini akan menjadi pertempuran jangka panjang melawan ancaman besar,” ujar Zamir melalui pesan video nasional.
Ia menegaskan bahwa militer Israel telah mempersiapkan operasi ini selama bertahun-tahun, seiring dengan operasi militer yang masih berlangsung terhadap Hamas di Jalur Gaza.
Konflik memuncak sejak 13 Juni lalu, saat Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran. Tel Aviv menyatakan langkah itu sebagai tindakan preventif untuk mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir. Iran langsung membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah wilayah Israel, sambil terus menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai.
Ketegangan ini juga berdampak pada proses diplomatik yang tengah berlangsung. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut serangan Israel sebagai “pengkhianatan” terhadap proses perdamaian yang sedang dijajaki antara Teheran dan Washington.
“Kami seharusnya bertemu dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff pada 15 Juni lalu untuk menyusun kesepakatan damai. Tapi semua itu hancur oleh serangan brutal Israel,” kata Araghchi saat berbicara di Dewan HAM PBB di Jenewa. Ia menyebut langkah Israel sebagai “pukulan terhadap hukum internasional dan diplomasi global.”
Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya upaya perdamaian di kawasan, sekaligus memperlihatkan betapa cepatnya konflik bisa berubah menjadi perang terbuka berskala besar. Dunia kini menanti: apakah Dewan Keamanan PBB akan bertindak tegas, atau justru menjadi saksi dari babak baru perang di Timur Tengah. (*)







