Ebrita.com – Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati **Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)**—sebuah momen bersejarah yang menandai awal bangkitnya semangat nasionalisme dan persatuan melalui lahirnya organisasi **Budi Utomo** pada tahun 1908.
Didirikan oleh **Dr. Soetomo** bersama pelajar STOVIA atas inspirasi dari **Dr. Wahidin Sudirohusodo**, Budi Utomo menjadi organisasi modern pertama yang memperjuangkan kemajuan bangsa melalui pendidikan, kebudayaan, dan kesadaran sosial. Organisasi ini mengubah wajah perjuangan Indonesia, dari yang sebelumnya bersifat kedaerahan menjadi lebih terorganisir dan nasional.
Budi Utomo lahir di tengah kesadaran kaum terpelajar bahwa perubahan tidak hanya bisa dicapai lewat perlawanan fisik, tetapi juga lewat pendidikan dan pemikiran. Kongres pertamanya pada Oktober 1908 di Yogyakarta memperkuat struktur organisasi dan memperluas pengaruhnya ke berbagai daerah.
Organisasi ini kemudian menjadi fondasi bagi lahirnya gerakan besar lain seperti sarekat Islam, Muhammadiyah, dan **Perhimpunan Indonesia, yang pada akhirnya mendorong lahirnya semangat kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.
Penetapan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional dilakukan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1948 di Yogyakarta atas usulan Ki Hadjar Dewantara. Penetapan ini bukan sekadar peringatan historis, tetapi sebagai simbol perlawanan terhadap perpecahan bangsa selama masa revolusi, dan penegasan bahwa kekuatan persatuan adalah kunci kemerdekaan.
Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar mengenang sejarah, tapi juga mengingatkan bahwa kekuatan suatu bangsa terletak pada persatuan, pendidikan, dan pemikiran kritis. Di tengah era digital dan tantangan global saat ini, semangat Harkitnas harus diterjemahkan dalam bentuk inovasi, kolaborasi, dan semangat membangun bangsa secara kolektif.
Sebagaimana Budi Utomo menjadi pionir perubahan di masa penjajahan, generasi masa kini diharapkan menjadi pelopor kebangkitan baru di bidang teknologi, ekonomi, dan kebudayaan.(Tim)







